Selasa, 14 Ogos 2012

Metodologi Tafsir Imam Fakharuddin Al-Razi dalam Kitab Tafsir Kabir

 
Berbicara tentang Al Quran, berarti membahas tentang suatu kitab yang suci nan sakral. Al Quran sebagai rahamat linnas wa rahmatal lil ‘alamiin, menjadikan kitab suci ini sebagai landasan dan huda dalam menapak jejak kehidupan di dunia ini.Dalam Al Quran yang menjadi mukjizat Rasulullah Saw, didalamnya banyak terkandung hikmah  dan interpretasi yang luas, sehingga ketika membaca Al Quran maka kita akan mendapatkan makna-makna yang lain ketika kita membacanya lagi. Inilah yang menjadikan Al Quran terasa nikmat ketika dibaca dan terasa tenang dihati ketika mendengarnya, walaupun yang mendengarnya itu seorang ‘Ajami yang tidak paham bahasa Al Quran.
Dalam bermuamalah dengan Al Quran, terkadang kita mendapatkan ayat-ayat yang sulit untuk dipahami maksudnya. kita memerlukan sebuah perangkat untuk memahami kandungan Al Quran, yang kita kenal dengan istilah tafsir. bahkan sahabat nabi terkadang masih sulit untuk memahami Al Quran. Sehingga ketika para sahabat tidak mengetahui makna atau maksud  suatu  ayat dalam Al Quran, mereka langsung merujuk kepada Rasulullah dan menanyakan hal tersebut.
Sebagai umat Islam yang baik, tentunya kita tidak pernah luput dalam bersentuhan dengan Al Quran, setidaknya dengan senantiasa membacanya.Namun apakah cukup hanya dengan membacanya saja? tentunya untuk meningkatkan kualitas kita dalam bergaul dengan Al Quran, dan untuk merasakan mukjizat Al Quran lebih dalam, adalah disamping kita membacanya, kita juga membaca dan menelaah tafsir-tafsir sebagai bayan atau yang menjelaskan dari Al Quran itu sendiri.
Salah satu jalan yang ditempuh dalam bergelut dalam dunia tafsir, setidaknya dengan mengetahui pengarang dan metodologi yang dipakai dalam menginterpretasi Al Quran.Pada makalah yang singkat ini, penulis mencoba memaparkan salah satu mufassir terkenal, mufassir yang keilmuannya tidak ada yang menandingi pada zamannya, dialah Fakhruddin Ar Razi.

Sekilas tentang Tafsir Kabiir


Tafsir Mafaihul Ghaib atau yang dikenal sebagai Tafsir al-Kabir dikategorikan sebagai tafsir bir ra’yi (tafsir yang menggunakan pendekatan aqli), dengan pendekatan Mazhab Syafi’iyyah dan Asy’ariyah. Tafsir ini merujuk pada kitab Az-Zujaj fi Ma’anil Quran, Al-Farra’ wal Barrad dan Gharibul Quran, karya Ibnu Qutaibah dalam masalah gramatika.
Riwayat-riwayat tafsir bil ma’tsur yang jadi rujukan adalah riwayat dari Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, Sudai, Said bin Jubair, riwayat dalam tafsir At-Thabari dan tafsir Ats-Tsa’labi, juga berbagai riwayat dari Nabi saw, keluarga, para sahabatnya serta tabi’in.
Sedangkan tafsir bir ra’yi yang jadi rujukan adalah tafsir Abu Ali Al-Juba’i, Abu Muslim Al-Asfahani, Qadhi Abdul Jabbar, Abu Bakar Al-Ashmam, Ali bin Isa Ar-Rumaini, Az-Zamakhsyari dan tafsir Abul Futuh Ar-Razi.
Ada riwayat yang menjelaskan bahwa Ar-Razi tidak menyelesaikan tafsir ini secara utuh. Ibnu Qadi Syuhbah mengatakan, “Imam Ar Razi belum menyelesaikan seluruh tafsirnya”. Ajalnya menjemputnya sebelum ia menyelesaikan tafsir Al Kabiir. Ibnu Khulakan dalam kitabnya wafiyatul a’yan nya juga berkata demikian.Jadi siapa yang menyempurnakan dan menyelesaikan tafsir ini?dan sampai dimana beliau mengerjakan tafsirnya?
Ibnu hajar Al ‘Asqalani menyatakan pada kitabnya ,” Yang menyempurnakan tafsir Ar Razi adalah Ahmad bin Muhammad bin Abi Al Hazm Makky Najamuddin Al Makhzumi Al Qammuli, wafat pada tahun 727 H, beliau orang mesir. Dan penulis kasyfu Ad dzunuun juga menuturkan,” Yang merampungkan tafsir Ar Razi adalah Najamuddin Ahmad bin Muhammad Al Qamuli, dan beliau wafat  tahun 727 H. Qadi Al Qudat Syahabuddin bin Khalil Al Khuway Ad Dimasyqy, juga menyempurnakan apa yang belum terselesaikan, beliau wafat tahun 639 H.
Kemudian, sampai dimana Ar Razi terhenti dalam menulis tafsirnya? DR. Muhammad Husain Ad Zahabi menjelaskan pada kitabnya tafsir al mufassiruun,” Imam Fakhruddin telah menulis tafsirnya sampai surah Al Anbiya, setelah itu datang Syahabuddin Al Khuway melanjutkan tafsir ini, namun beliau belum menyelesaikan seluruhnya, kemudian datang Najamuddin Al Qamuli menyempurnakan tafsir Ar Razi. Ad Zahabi juga mengatakan bisa jadi yang menyelesaikan tafsir Ar Razi sampai akhir adalah Al Khuway.
Namun, Sayyid Muhammad Ali Iyazi, dengan merujuk pada keterangan Syaikh Muhsin Abdul Hamid, memberikan klarifikasi bahwa sekelompok mufasir era  belakangan yang meneliti tafsir ini menetapkan kitab tafsir ini sebagai karya mandiri dari Ar-Razi secara utuh.
Lepas dari polemik di atas, ini adalah salah satu kitab tafsir bir ra’yi yang paling komprehensif, karena menjelaskan seluruh ayat Al Quran dengan pendekatan logika. Sang pengarang berusaha menangkap substansi atau ruh makna yang terkandung dalam teks Al Quran.
Adapun maksud tafsir ini dan segala uraiannya, antara lain:
Pertama; menjaga dan membersihkan Al Quran beserta segala isinya dari kecenderungan-kecenderungan rasional yang dengan itu diupayakan bisa memperkuat keyakinan terhadap Al Quran.
Kedua; pada sisi lain, Ar-Razi meyakini pembuktian eksistensi Allah swt dengan dua hal. Yaitu “bukti terlihat”, dalam bentuk wujud kebendaan dan kehidupan, serta “bukti terbaca”, dalam bentuk Al Quran. Apabila merenungi hal yang pertama secara mendalam, kita akan semakin memahami hal yang kedua. Karena itu Ar-Razi merelevansikan keyakinan ilmiyah dengan kebenaran ilmiyah dalam tafsirnya.
Ketiga; Ar-Razi ingin menegaskan sesungguhnya studi balaghah dan pemikiran bisa dijadikan sebagai materi tafsir, serta digunakan untuk menakwil ayat-ayat Al Quran, selama berdasarkan kepada kaidah-kaidah yang jelas, yaitu kaidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.


Metodologi Tafsir Ar Razi
  1. Perhatiannya dengan menjelaskan munasabah antar surah
Dr. Ad Zahabi menjelaskan, bahwa Ar Razi sangat mementingkan munasabah antar ayat dengan ayat lain, dan surah dengan surah yang lain, bahkan Ar Razi tidak hanya menyebutkan satu munasabah saja, tapi menyebutkan banyak munasabah.
  1. Perhatian Ar Razi pada ilmu riyadhiyah, dan fisafat.
Ar Razi dalam tafsirnya sangat memperhatikan terhadap ilmu riyadhiyah( ilmu pasti), filsafat dan lain sebagainya. Beliau juga memaparkan argumen-argumen filsafat kemudian membantahnya dengan argumen yang lebih kuat.Walaupun beliau membantah dengan menggunakan dalil akal, namun tetap sejalan dengan keyakinan ahlusunnah.
Penulis kasyfu ad zunuun mengatakan,” Didalam tafsir Ar Razi terdapat begitu banyak perkataan-perkataan mutakallimiin dan filosof. Ia keluar dari permasalahan kepermasalahan yang lain, sehinggga membuat pembaca mengagumi tafsir beliau”.http://ahmadbinhanbal.wordpress.com/2012/04/10/metodologi-tafsir-imam-fakhruddin-ar-razi-dalam-kitab-tafsir-al-kabir/
  1. Sikap beliau terhadap  Muktazilah
Ar Razi, beliau sangat serius dalam menghadapi muktazilah, dalam tafsirnya, terlebih dahulu beliau memaparakan pendapat-pendapat muktazilah dan kemudian beliau membantah dengan argumen yang kuat. Ibnu Hajar pernah mengatakan,” Bahwa Ar Razi dicela karena banyak meriwayatkan syubhat secara tunai dan mengatasinya secara kredit”. Namun hal ini tidak mengurangi kehebatan beliau sebagai seorang ulama yang memperjuangkan agama islam.
  1. Pandangannya terhadap Ilmu Fiqih, Usul, Nahwu dan Balaghah.
Fakhru Ar Razi hampir-hampir tidak melewatkan ayat-ayat hukum kecuali beliau sebutkan semua mazhab-mazhab  fiqih.Begitu juga ketika beliau memaparkan masalah-masalah fiqih, nahwu dan balaghah, namun beliau tidak berbicara panjang lebar pada masalah tersebut lebih dari pembahasan beliau yang berkaitan dengan alam ini, dan riyadhiah. Dengan keluasan dan pemahaman beliau terhadap ilmu fiqih, sampai-sampai beliau pernah mengutarakan,”Ketahuilah suatu waktu, terlintas pada lisanku, bahwa surat yang mulia ini yaitu Al fatihah bisa ditarik hikmah-hikmah dan permasalahan sebanyak sepuluh ribu.

Penutup

Demikianlah sekilas profil dan manhaj Imam Ar Razi dalam tafsir kabiirnya, tentunya makalah ini tidak bisa mewakili kehebatan dan keluasan ilmu yang dimiliki oleh beliau, olehnya penulis berharap agar kita bisa membaca dan mengkaji lebih dalam tafsir kabiir, sehingga kita bisa rasakan akan keluasan dan ketinggian ilmu beliau. Wallahu a’lam bi shawaab.

Isnin, 13 Ogos 2012

Jiwa Manusia Menurut Fakhruddin Al-Razi

Sumber Asal : 

http://insistnet.com/index.php?option=com_content&view=article&id=94:jiwa-manusia-menurut-fakhruddin-al-razi&catid=20:psikologi-islam&Itemid=
Imam Fakhruddin al-Razi (m. 1210 M) dikenal sebagai seorang ulama besar yang ensiklopedis, menguasai berbagai bidang keilmuan secara mendalam. Ia seorang mufassir al-Qur’an terkemuka. Ia juga pakar dalam bidang kedokteran, logika, matematika, dan fisika. Ia menulis kurang lebih dari dua ratus judul buku. Beberapa judul pun berjilid-jilid. Tulisannya tentang jiwa manusia terurai paling sedikit dalam tiga karyanya. Pertama, tentunya dalam Tafsir Besar-nya (al-Tafsir al-Kabir). Kedua, bukunya yang berjudul Kitab al-Nafs wa al-Ruh wa Syarh Quwahuma. (Buku Jiwa dan Ruh dan Komentar Terhadap Kedua Potensinya). Ketiga,  tulisannya yang lebih menukik, terdapat dalam magnum opus-nya (karya besar), yang berjudul al-Matalib al-’Aliyah fi  al-’Ilm al-Ilahi (Kesimpulan-Kesimpulan Puncak dalam Ilmu Ketuhanan). Buku ini terdiri dari 9 jilid.

Dalam pandangan Fakhruddin al-Razi, manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang unik. Keunikannya ada pada karakteristiknya yang khas. Manusia memang beda dengan makhluk ciptaan Allah yang lain. Bagi Fakhruddin al-Razi, manusia adalah makhluk yang memiliki akal dan hikmah serta tabiat dan nafsu. Ini membedakan manusia bukan hanya dengan binatang dan tumbuhan, tapi juga dengan malaikat. Dalam kajian psikologi Barat, perbandingan manusia dengan malaikat dan setan tentunya tidak ditemukan.
Menurut al-Razi, malaikat hanya memiliki akal dan hikmah, tanpa tabiat dan hawa nafsu. Karena itu, malaikat selalu ber-tasbih, ber-tahmid dan melakukan taqdis. (QS 16:50; 66:6: 21:21). Malaikat juga tidak akan mengingkari perintah Allah Ta’ala karena memang tidak memiliki hawa nafsu. Sebaliknya, binatang dan tumbuh-tumbuhan memiliki tabiat dan nafsu, namun tidak memiliki akal serta hikmah. Berbeda dengan malaikat, binatang dan tumbuh-tumbuhan, manusia memiliki kesemua karakteristik tersebut, yaitu akal, hikmah, tabiat dan hawa nafsu.
Karakteristik berbeda menyebabkan sifat juga berbeda. Bagi al-Razi, malaikat selalu memiliki kesempurnaan karena tidak punya hawa nafsu dan tabiat. Sebaliknya, binatang selalu memiliki kekurangan karena tidak punya akal dan hikmah. Nah, manusia ada di antara keduanya. Manusia memiliki akal dan hikmah, tapi manusia juga punya hawa nafsu dan tabiat. Karena ke-empat karakteristik tersebut, maka manusia  memiliki sifat kekurangan dan kelebihan. Jika manusia menggunakan akal dan hikmah untuk mengatur hawa nafsu dan tabiatnya, maka manusia akan memiliki kelebihan dibanding dengan makhluk ciptaan Allah lainnya.  Dengan menggunakan akal -- dan hikmah yang bersumber dari ajaran agama -- untuk menundukkan hawa nafsu dan tabiatnya, maka manusia akan menjadi khalifah Allah di bumi, sekaligus akan menjadi makhluk yang paling mulia. Sebaliknya, jika tabiat dan hawa nafsu yang menguasai diri dan akalnya, maka ia akan lebih hina dari binatang, yang memang tidak punya akal dan hikmah.

Jiwa Manusia
Menurut Fakhruddin al-Razi, jiwa manusia memiliki beberapa tingkatan. Tingkatan tertinggi adalah tingkat yang menghadap ke alam ilahi (al-sabiqun, al-muqarrabun). Tingkatan ini dapat diraih hanya jika manusia mau melakukan praktek spiritual (al-riyadiyah al-ruhaniah) dengan istiqamah. Tingkatan berikutnya adalah tingkatan pertengahan (ashab al-maymanah, al-muqtasidun). Untuk mencapai tingkat kedua ini, diperlukan ilmu akhlak (ilm al-akhlaq). Tingkatan paling rendah adalah jiwa manusia yang sibuk mencari kesenangan kehidupan duniawi, (ashab al-shimal, al-dhalimun).
Fakhruddin al-Razi juga menyatakan bahwa ada tiga jenis jiwa manusia. Pertama, al-Nafs al-Mutmainnah (al-Fajr, 89: 27), yaitu jiwa yang tenang, jiwa yang penuh dengan kehidupan spiritualitas dan kedekatan dengan Tuhan. Kedua adalah al-Nafs al-lawwamah (al-Qiyamah 75: 2). Ketiga adalah al-Nafs al-Ammarah bi al-su’ (Yusuf, 12: 53), adalah jiwa yang selalu mengarahkan manusia kepada keburukan.
Fakhruddin al-Razi membedakan jiwa dengan tubuh. Menurutnya, jiwa bukanlah struktur lahiriah yang bisa dilihat secara inderawi (Ghayr al-bunyah al-zahirah al-mahshushah). Fakhruddin al-Razi membuktikan pendapatnya dengan akal dan wahyu. Adapun bukti akal sebagai berikut. Pertama, jiwa adalah satu. Oleh sebab itu, jiwa berbeda dengan tubuh dan  bagian-bagiannya. Bahwa jiwa adalah satu,  dapat dibuktikan secara spontan dan intuitif (a priori) dan bisa juga dengan bukti empiris (a posteriori). Spontan,  karena ketika seorang mengatakan “aku/saya”, maka “aku/saya” merujuk kepada satu esensi (zat) yang khusus, dan tidak banyak.
Jiwa bisa juga dibuktikan secara empiris, yang  berbeda dengan tubuh dan bagian-bagian tubuh: (a) Jiwa bukanlah himpunan bagian-bagian tubuh karena penglihatan tidak menghimpun seluruh kerja tubuh. (b)  Jiwa juga tidak identik dengan bagian dari tubuh karena tidak ada dari bagian tubuh yang meliputi semua kerja tubuh. (c) Jika kita melihat sesuatu, kita mengetahuinya, setelah itu menyukainya ataupun membencinya, mendekatinya ataupun menjauhinya. Jika penglihatan adalah sesuatu, dan pengetahuan adalah sesuatu yang lain, maka yang melihat tidak akan mengetahui. Padahal, ketika saya melihat, saya mengetahui. Jadi, esensi dari penglihatan dan pengetahuan adalah satu. (d)  Semua bagian tubuh adalah alat untuk jiwa. Jiwa melihat dengan mata, berfikir dengan otak, berbuat dengan hati, merasa dengan kulit, dan seterusnya.
Lalu, apa ”jiwa” itu? Fakhruddin al-Razi menggambarkan hakikat jiwa sebagai substansi yang berbeda dengan tubuh. Jiwa juga terpisah secara esensial dengan tubuh. Namun jiwa terhubungkan dengan tubuh dengan hubungan kerja dan administrasi (dzat al-nafs jawhar mughayir laha mufariq ‘anha bi al-dhat muta’alliq biha tasarruf wa al-tadbir).
Setelah menyebutkan bukti-bukti akal, Fakhruddin al-Razi menyebutkan banyak ayat dalam al-Qur’an yang menunjukkan bahwa jiwa bukanlah tubuh. Firman Allah, misalnya, dalam Surah Ali Imran ayat 169 yang artinya: ”Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. (QS 3: 169). Jadi, jiwa bukan tubuh, karena sekalipun badan mereka telah gugur, namun jiwa mereka tetap hidup. Begitu juga disebutkan dalam al-Quran Surah Al-Mu’minun 40:46; Nuh 71: 25; Al-An’am: 93.
Pemikiran Fakhruddin al-Razi bahwa jiwa – dan bukan tubuh --  yang mengatur tubuh sangat penting untuk direnungkan. Kita mungkin banyak menghabiskan uang untuk berobat, merawat kesehatan badan, menjaga tubuh dengan membeli berbagai produk kesehatan dan kosmetika, dan membeli pakaian dengan berbagai merek, model dan bentuk. Jika tidak menghabiskan banyak uang untuk keperluan dan keinginan tersebut, setiap hari kita mandi untuk membersihkan tubuh kita. Namun, apakah jiwa yang justru mengatur tubuh kita juga dibersihkan,  diobati, dirawat dan dihiasi?
Manusia bisa saja memiliki tubuh bersih namun berjiwa kotor. Jadi, jiwa tidak selalu tergantung kepada penampilan tubuh. Kita berharap memiliki jiwa yang sehat dengan tubuh yang sehat. Jiwa yang tenang akan dapat diraih dengan mempelajari serta mengamalkan ibadah dan akhlak secara berkelanjutan. Inilah jiwa yang sehat, jiwa yang selalu mengingat Allah dan menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala

Khamis, 21 Jun 2012


Peribadi beliau


Imam Fakhruddin ar-Razi adalah seorang ulamak yang masyhur pada zamannya dalam bidang ilmu fiqh , ilmu-ilmu bahasa dan sastera, ilmu mantik (logika), dan ilmu madhab-madhab Kalam (aliran pemikiran dan Akidah), termasuk salah seorang yang pakar di zamannya dalam ilmu perubatan dan ilmu hikmah.  Imam Fakhruddin Ar-Razi , apabila beliau mengembara , diiringi oleh ratusan murid yang sentiasa bersedia mengambil ilmu dari beliau dalam bidang Tafsir, Fiqh, Kalam, Kedoktoran, Usul Fiqh, dan sebagainya. Apabila beliau sedang mengajar, beliau di kelilingi banyak kelompok dalam kalangan anak muridnya. antara pelajarnya yang terawal ialah Zainuddin Al-Kassyi, Al-Qutb Al-Masri, Shihabuddin Al-Naisaburi, beliau juga dikelilingi oleh murid-murid yang sederhana martabat dari segi bilangan ilmu dan kefahaman, dan apabila di tanyai satu soalan maka di jawab oleh murid muridnya, kalau soalan itu adalah soalan yang sukar, maka di jawab oleh murid-muridnya yang tertua, maka jika soalan itu terlalu sukar maka beliau sendiri yang akan menjawabnya. Imam Fakhruddin Ar-Razi punya kedudukan yang tinggi di sisi ulama Usul Fiqh, sehingga apalila mereka mengambil pandangan beliau mereka berkata; “berkata Imam atau disisi Imam” apabila mereka berkata disisi Imam atau berkata Imam tanpa menyebut siapa namanya selepasnya maka yang dimaksudkan ialah Imam Fakhruddin Ar-Razi . D . Karyaan Imam Fakhruddin Ar-Razi Karyaan Imam Fakhruddin ar-Razi terbagi kepada tiga bagian, yaitu karyaan berbahasa Arab yang di siapkan sepenuhnya oleh beliau, karyaan berbahasa arab yang di sempurnakan oleh orang sesudah beliau, dan karyaan beliau yang di tulis dalam bahasa Persia, adapun karyaan beliau dalam bahasa arab yang di siapkan beliau ialah :

1- Kitab Tafsir Al-Kabir, inilah Kitab Imam Fakhruddin ar-Razi yang paling terkenal, kitab ini disempurnakan cetakannya syarikat percetakan Mesir, yang di cetak sebanyak 32 juzuz.
2- Kitab Tafsir Al-Fatihah dan menerangkan bahawa padanya terdapat seribu masalah.
3. Kitab Tafsir As-Shaghir (dengan judul asrar Al-Tanzil wa Anwar Ta’wil)
4. Kitab Nihayah Al-‘Ukul 
5. Kitab Al-Mahshul fi Ilmi Usul Fiqh
6. Kitab Al-Mabahasul Masyriqiyah
7. Kitab Lubab Al-Isyarat
8. Kitab Al-Matholib Al-‘Aliyah fi Hikmah
9. Kitab Al-Mu’alim fi Ushul Fiqh
10. Kitab Al-Mu’alim fi Ushul Ad-Din
11. Kitab Al-Tanbihul Isyarah fi Ushul
12. Kitab Al-Arbain fi Ushul Ad-Din
13. Kitab Siraj Al-Qulub
14. Kitab Zubdatul Afkar wa Umdatul Nizhar
15. Kitab Sharh Al-Isyarat
16. Kitab Manakib Al-Imam Asy-Syafi’i
17. Kitab Tafsir Asma’ Al-Husna
18. Kitab Ta’sis Al-Taqdis
19. Kitab Al-Thariqah Fi Al-Jidal
20. Kitab Risalah fi Al-Soal
21. Kitab Muntakhib Tankalusya
22. Kitab Mabahas Al-wujub wa Adam
23. Kitab Mabahas Al-Jidl
24. Kitab An-Nabdhi
25. Kitab Al-‘Ala iyyah fi Khilaf
26. Kitab Lawami ul Bayyinat fi Syarh Asma’ Al-Allah was-Sifat
27. Kitab Fadhail As-Shahabat Ar-Rasyidin 28. Kitab Qhada’i wal Qadri
29. Kitab Risalah Fi Huduth
30. Kitab Kitab Al-Lathai tu Al-Ghayaiyyah
31. Kitab Syahu ‘Uyunul Hikmah
32. Kitab Syifa u Al-‘Uyyi minal Khilaf
33. Kitab Al-Qhalqi wal Bi’si
34. Kitab Al-Akhlak
35. Kitab Ar-Risalah As-Shohibiyyah
36. Kitab Ar-Risalah Al-Majdiyah
37. Kitab Al-‘Usmatul Ambiya’
38. Kitab Mashadirat Iqliidis
39. Kitab fi Al-Handisah
40. Kitab Nafsatu Masdur
41. Kitab Ar-Risalah fi Zimmi Ad-Dunya
42. Kitab Al-Ikhtiyarat Al-‘Alaiyyah, fi ta’siraati As-Samawiyyah
43. Kitab Al-Ihkam Al-Ahkam
44. Kitab Ar-Riyadhah Al-Mauniqah
45. Kitab Ar-Risalah An-Nafsi
46. Al-Mahsul fi Ilmi Al-Kalam
47. Kitab At-Thoriqatul fi Akhlak
48. Al-Mahsul fi Al-Fiqhi
49. Kitab Al-Milal wa Al-Nihal
50. Kitab Al-Ayatul Bayyinat
51. Kitab Ar-Risalah fi At-Tanbih ‘ala ba’dhi Al-asrarir Mauaadi ah fi ba’dhi Suwar Al-Qur’an Al-Karim
52. Kitab Risalah Al-Jawahir Al-Fardi
53. Kitab fi Ar-Ramli
54. Kitab Masail At-Thibbi
55. Kitab Az-Zubdat fi Ilmi Al-Kalam
56. Kitab Al-Firasat
57. Kitab Al-Mulkhish fi Falsafah
58. Kitab Al-Mabahis Al-Imadiyyah fi Al-Muthalib Al-Ma adiyyah
59. Kitab Al-Khamsin fi Usuliddin
60. Kitab Risalah fi An-Nubuwat
61. Kitab Nihayah Al-Iijaz fi dirayatil ‘Ijaz
62. Kitabul Uyun Al-Masail An-Najjariyah
63. Kitab Al-Bayan wa Al-Burhan fi Raddi ala Ahli Al-Zaigh Wat Tughyan fi Ilmi Kalam
64. Kitab Tahsilul Haq
65. Kitab Al-Muakhizatil ‘ala An-Nuhah
66. Kitab Tahzib Ad-Dalail wal Uyun Al-Masail fi Ilmi al-Kalam
67. Kitab Irsyad An-Nazhoir ila Lathoif Al-Asrar fi Ilmi Al-Kalam

Adapun karyaan beliau dalam bahasa arab yang belum sempat disiapkan beliau, beliau meninggal :
1. Kitab Syarh Saqth Al-Zundi
2. Kitab Kulliyat Al-Qanun
3. Kitab Syarh Wajiz Al-Ghazali
4. Kitab fi Ibthal Al-Qiyas
5. Kitab Syarh Nahji Al-Balaghah
6. Kitab Al-Jami’ Al-Kabir fi Thibb
7. Kitab Syarh Al-Mufashol lil Zamakhsyari
8. Kitab At-Tasyrih Minal Ra’si ila Al-Halqi
Bagi Imam Fakhruddin Ar-Razi beberapa kitab yang di tulis beliau dalam bahasa Persia seperti : Risalah Al-Kamaliah, wa Tahjin Ta’jiz Al-Falasafah dan Kitab Al-Barahin Al-Bahaiyyah.

Peribadi beliau . Imam Fakhruddin ar-Razi adalah seutama-utama Ulama pada masanya dalam bidang ilmu fiqh , ilmu-ilmu bahasa dan sastera, ilmu mantik (logika), dan ilmu madhab-madhab Kalam (aliran pemikiran dan Akidah), termasuk seorang yang pakar di zamannya pada ilmu perubatan dan ilmu hikmah. adalah Imam Fakhruddin Ar-Razi , apabila berjalan beliau , di iringi oleh lebih dari tidak ratus murid yang sentiasa bersedia mengambil ilmu dari beliau dalam bidang Tafsir, Fiqh, Kalam, Kedokteran, Usul Fiqh, dan lainnya. Apabila beliau duduk untuk memberikan pengajian, beliau di kelilingi oleh kelompok murid-murid beliau yang paling tua seperti Zainuddin Al-Kassyi, Al-Qutb Al-Masri, Shihabuddin Al-Naisaburi, kemudian di kelilingi oleh murid-murid beliau yang sederhana sedikit martabat mereka nisbah ilmu dan kefahaman, dan apabila di tanyai satu soalan maka di jawab oleh murid muridnya, kalau soalan itu adalah soalan yang sukar, maka di jawab oleh murid-muridnya yang tertua, maka jika soalan itu terlalu sukar maka beliau sendiri yang akan menjawabnya. Imam Fakhruddin Ar-Razi punya kedudukan yang tinggi di sisi ulama Usul Fiqh, sehingga apalila mereka mengambil pandangan beliau mereka berkata; “berkata Imam atau disisi Imam” apabila mereka berkata disisi Imam atau berkata Imam tanpa menyebut siapa namanya selepasnya maka yang dimaksudkan ialah Imam Fakhruddin Ar-Razi . D . Karyaan Imam Fakhruddin Ar-Razi Karyaan Imam Fakhruddin ar-Razi terbagi kepada tiga bagian, yaitu karyaan berbahasa Arab yang di siapkan sepenuhnya oleh beliau, karyaan berbahasa arab yang di sempurnakan oleh orang sesudah beliau, dan karyaan beliau yang di tulis dalam bahasa Persia, adapun karyaan beliau dalam bahasa arab yang di siapkan beliau ialah : 

1- Kitab Tafsir Al-Kabir, inilah Kitab Imam Fakhruddin ar-Razi yang paling terkenal, kitab ini disempurnakan cetakannya syarikat percetakan Mesir, yang di cetak sebanyak 32 juzuz.
2- Kitab Tafsir Al-Fatihah dan menerangkan bahawa padanya terdapat seribu masalah.
3. Kitab Tafsir As-Shaghir (dengan judul asrar Al-Tanzil wa Anwar Ta’wil)
4. Kitab Nihayah Al-‘Ukul
5. Kitab Al-Mahshul fi Ilmi Usul Fiqh
6. Kitab Al-Mabahasul Masyriqiyah
7. Kitab Lubab Al-Isyarat
8. Kitab Al-Matholib Al-‘Aliyah fi Hikmah
9. Kitab Al-Mu’alim fi Ushul Fiqh
10. Kitab Al-Mu’alim fi Ushul Ad-Din
11. Kitab Al-Tanbihul Isyarah fi Ushul
12. Kitab Al-Arbain fi Ushul Ad-Din
13. Kitab Siraj Al-Qulub
14. Kitab Zubdatul Afkar wa Umdatul Nizhar
15. Kitab Sharh Al-Isyarat
16. Kitab Manakib Al-Imam Asy-Syafi’i
17. Kitab Tafsir Asma’ Al-Husna
18. Kitab Ta’sis Al-Taqdis
19. Kitab Al-Thariqah Fi Al-Jidal
20. Kitab Risalah fi Al-Soal
21. Kitab Muntakhib Tankalusya
22. Kitab Mabahas Al-wujub wa Adam 
23. Kitab Mabahas Al-Jidl 
24. Kitab An-Nabdhi
25. Kitab Al-‘Ala iyyah fi Khilaf 
26. Kitab Lawami ul Bayyinat fi Syarh Asma’ Al-Allah was-Sifat
27. Kitab Fadhail As-Shahabat Ar-Rasyidin 
28. Kitab Qhada’i wal Qadri 
29. Kitab Risalah Fi Huduth  
30. Kitab Kitab Al-Lathai tu Al-Ghayaiyyah 
31. Kitab Syahu ‘Uyunul Hikmah 
32. Kitab Syifa u Al-‘Uyyi minal Khilaf 
33. Kitab Al-Qhalqi wal Bi’si 
34. Kitab Al-Akhlak 
35. Kitab Ar-Risalah As-Shohibiyyah 
36. Kitab Ar-Risalah Al-Majdiyah 
37. Kitab Al-‘Usmatul Ambiya’ 
38. Kitab Mashadirat Iqliidis 
39. Kitab fi Al-Handisah 
40. Kitab Nafsatu Masdur 
41. Kitab Ar-Risalah fi Zimmi Ad-Dunya 
42. Kitab Al-Ikhtiyarat Al-‘Alaiyyah, fi ta’siraati As-Samawiyyah 
43. Kitab Al-Ihkam Al-Ahkam 
44. Kitab Ar-Riyadhah Al-Mauniqah 
45. Kitab Ar-Risalah An-Nafsi 
46. Al-Mahsul fi Ilmi Al-Kalam 
47. Kitab At-Thoriqatul fi Akhlak 
48. Al-Mahsul fi Al-Fiqhi 
49. Kitab Al-Milal wa Al-Nihal 
50. Kitab Al-Ayatul Bayyinat 
51. Kitab Ar-Risalah fi At-Tanbih ‘ala ba’dhi Al-asrarir Mauaadi ah fi ba’dhi Suwar Al-Qur’an Al-Karim 
52. Kitab Risalah Al-Jawahir Al-Fardi 
53. Kitab fi Ar-Ramli 
54. Kitab Masail At-Thibbi 
55. Kitab Az-Zubdat fi Ilmi Al-Kalam.
 56. Kitab Al-Firasat 
 57. Kitab Al-Mulkhish fi Falsafah 
58. Kitab Al-Mabahis Al-Imadiyyah fi Al-Muthalib Al-Ma adiyyah 
59. Kitab Al-Khamsin fi Usuliddin 
60. Kitab Risalah fi An-Nubuwat 
61. Kitab Nihayah Al-Iijaz fi dirayatil ‘Ijaz 
62. Kitabul Uyun Al-Masail An-Najjariyah 
63. Kitab Al-Bayan wa Al-Burhan fi Raddi ala Ahli Al-Zaigh Wat Tughyan fi Ilmi Kalam 
64. Kitab Tahsilul Haq 
65. Kitab Al-Muakhizatil ‘ala An-Nuhah 
66. Kitab Tahzib Ad-Dalail wal Uyun Al-Masail fi Ilmi al-Kalam 
67. Kitab Irsyad An-Nazhoir ila Lathoif Al-Asrar fi Ilmi Al-Kalam

 Adapun karyaan beliau dalam bahasa arab yang belum sempat disiapkan beliau, beliau meninggal : 
 1. Kitab Syarh Saqth Al-Zundi 
2. Kitab Kulliyat Al-Qanun 
3. Kitab Syarh Wajiz Al-Ghazali 
4. Kitab fi Ibthal Al-Qiyas 
5. Kitab Syarh Nahji Al-Balaghah 
6. Kitab Al-Jami’ Al-Kabir fi Thibb 
7. Kitab Syarh Al-Mufashol lil Zamakhsyari 
8. Kitab At-Tasyrih Minal Ra’si ila Al-Halqi 

Bagi Imam Fakhruddin Ar-Razi beberapa kitab yang di tulis beliau dalam bahasa Persia seperti : Risalah Al-Kamaliah, wa Tahjin Ta’jiz Al-Falasafah dan Kitab Al-Barahin Al-Bahaiyyah.

Biografi Fakhruddin Al-razi



Riwayat Hidup



Nama lengkap Imam Fakhruddin Ar-Razi yaitu pengarang Tafsir Al-Kabir yang terkenal ini adalah Shaikh Al-Islam Muhammad bin Umar bin bin Al-Hasan At-Tamimy Al-Bakry Al-Qurasyi At-Tibristani Ar-Razi Asy-Syafi’i Al-Asy’ari, ini adalah seperti yang di sebut Sheikh Manu ul Al-Quttan, terdapat sedikit perbedaan dengan apa yang di tulis Al-Marhum Dokter Muhammad Husain Az-Zahaby dalam karyaannya yaitu Abu Abdillah Muhammad bin Umar bin Al-Husain bin Al-Hasan bin Ali At-Tamimy Al-Bakry At-Tibristani Ar-Razi, seorang yang di gelar dengan Faqruddin. Imam Fakhruddin terkenal dengan gelaran Ibnu Khatib Al-Ray Asy-Syafi’i Al-Faqih, Ayah beliau ternyata seorang ulama yang terkenal di zamannya yang bergelar Sheikh Al-Khatib Ar-Ray sahabat Imam Al-Bughawi yang berketurunan Amir Al-Mukminin Saiyidina Abu Bakr As-Siddiq R.A., Khalifah Umat Islam yang pertama, beliau di lahirkan pada 25 Ramadhan di kota Ray (Tehran, ibu kota Iran sekarang ini) pada tahun 543 Hijrah, meninggal dunia pada 606 Hijrah di Herah, sebagaimana yang disebut oleh As-Subki.
Imam Fakhruddin ar-Razi memiliki Ilmu agama dan Umum, Pakar dalam Ilmu Kalam (Teolog), Mufassir, Mantik dan Falsafah, jelas dalam kitab ilmu Kalam bahwa beliau memiliki kitab –kitab ilmu tersebut sehingga beliau dimusuhi oleh ahli-ahli falsafah yang hidup di masanya. kitab –kitab tersebut menjadi tempat rujukan bagi orang-orang yang menggelarkan diri mereka sebagai ahli Falsafah Islam. Imam Fakhruddin ar-Razi mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi ulama usul Fiqh. sehingga apabila mereka mengutip pandangan beliau mereka berkata dalam karangan mereka : “berkata Imam , atau disisi Imam , apabila mereka berkata “Imam”, tanpa menyebut nama selepas daripadanya maka yang di maksudkan ialah Imam Fakhruddin ar-Razi . B. Pendidikan Imam Fakhruddin ar-Razi memulai belajar ilmu dari ayahnya, Al-Imam Dhiya ad-Din Khatib ar-Ray sahabat Imam Bughawi oleh kerena itulah di kemudian hari Imam Fakhruddin ar-Razi di gelar sebagai ibnu Khatib ar-Ray, di nisbah kepada nama ayahnya.
Imam Fakhruddin ar-Razi belajar ilmu dari ayahnya sampai ayahnya meninggal dunia, kemudian beliau belajar dengan sebagian ulama di kota ar-Ray, beliau belajar ilmu Hikmat, Kalam dan Fiqh dengan Majdidin Al-Jaili seorang yang amat terkenal pada zamannya, mengutip ilmu dengan Majdi–Din mengambil masa yang sangat lama sehingga tiada terdapat pada zamannya yang lebih hebat dari beliau, dan adalah majlis ilmunya sangat hebat, sosok beliau sangatlah dimuliakan orang ramai sehingga pemerintah sangat memuliakan beliau. Berkata Ibnu Khalkan (yaitu murid Imam Fakhruddin ar-Razi), bahwa Imam Fakhruddin ar-Razi menulis dalam karangannya yang bernama Tahsil Al-Haq, belajar dengan tekun ilmu Usul (Usul disini bermaksud Ushuluddin yaitu ilmu Tauhid /Kalam) dengan ayahnya Dhiya Al-Qur’an-Din Umar, dan ayahnya belajar dari Abi Al-Qasim Sulaiman Bin Nasir Al-Ansari dan beliau belajar dari Imam Al-Haramain Abi Ma’ali Al-Juwaini, dan beliau belajar dengan Al-Ustaz Abi Ishaq Al-Isfiraiyaini dan beliau belajar dengan Al-Syeikh Abi Al-Husain Al-Baahili dan beliau belajar dengan Syeikh As-Sunnah wal Jamaah Abi Al-Hasan Ali bin Ismail Al-Asy’ari ( Imam abu Hasan Asy’ari ) dan Imam abu Hasan Asy’ari belajar ilmu dengan ayah tirinya Ali Al-Jubba’i Al-Mu’tazili (seorang Imam pada Madhab Mu’tazilah) pada permulaannya kemudian beliau kembali kepada monolong madzhab Ahli Sunnah wal Jamaah, setelah peristiwa perdebatan beliau dengan Sheikh Al-Jubbai. Adapun dalam memperdalami ilmu Madhab (Fiqh) pula, beliau belajar dari ayahnya, dan ayahnya belajar dari Abi Muhamad Al-Husain bin Mas’ud Al-Farra’ Al-Baghawi, AL-Farra’ pula belajar dari Al-Qhadi Hussin Al-Marwazi, dan Al-Qhadi Hussin pula belajar dari Al-Qaffal Al-Marwazi, manakala al-Qaffal belajar dari Abi Yazid Al-Marwazi, yang mana dia belajar dari Ali Abi ‘Abbas bin Rabah, Abi ‘Abbas pula belajar dari Abi Al-Qasim Al-Anmaathi, dan beliau belajar dari Abi Ibrahim Al-Muzani, yang mana Al-Muzani belajar dari Al-Imam Asy-Syafi’i R.A.
Dikatakan bahwa Imam Fakhruddin ar-Razi menghapal kesemua karangan Imam al-Haramain dalam Ilmu Kalam, kemudian beliau menuju ke negeri Khawazim, pada masa ini beliau telah mahir dalam pelbagai disiplin ilmu, lantaran beliau di sini, telah berlaku peristiwa pertukaran Madhab dan pegangan Ilmu Kalam di kalangan penduduk. kemudian beliau berpindah ke negeri berdekatan , disini berlaku lagi peristiwa yang sama semasa beliau di Khawazim, kemudian beliau kembali ke negeri asal beliau Ar-Ray, dan adalah di Ar-Ray pada masa ini seorang dokter perubatan yang mempunyai kehidupan yang mewah, beliau mempunyai dua orang anak perempuan, manakala Imam Fakhruddin ar-Razi mempunyai dua orang anak laki-laki, apabila si dokter sakit dan yakin bahwa beliau akan mati lantaran sakitnya itu beliau menikahkan kedua orang anak beliau itu dengan dua anak Imam Fakhruddin ar-Razi kemudian Imam Fakhruddin ar-Razi menjadi pengurus kesemua harta benda tersebut.




SUMBER ASAL